Zohri (kiri) dan sang kakak (kanan).

Nama Lalu Muhammad Zohri (18), atlet Indonesia asal Desa Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Utara, NTB, mendadak tenar setelah menjadi juara dunia dalam Kejuaraan Dunia Atletik U-20 untuk nomor 100 meter putra di Finlandia (11/7).
Di balik prestasi yang membanggakan rakyat seantero Indonesia ini, tersimpan cerita getir nan haru.
Salah satunya soal sepatu lari yang menjadi bagian penting dalam perjuangannya.
Siapa sangka, setahun sebelum kejuaraan ini berlangsung, tak mudah bagi Zohri untuk membeli sepatu seharga Rp 400.000.

Baiq Fazilla, kakak kandung Zohri, menuturkan, satu tahun lalu, dia meminta kepada kakaknya untuk dibelikan sepatu seharga Rp400.000.
"Dia minta ke saya uang Rp400.000 untuk beli sepatu sebelum berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan pertandingan ke luar negeri. Saya hanya bisa memberikannya uang seadanya. Saya sangat bangga padanya dan dia tak pernah menuntut,” kata Fazilla sembari menyeka air matanya ketika ditemui di rumah mereka, (12/7).
Dia mengaku bangga dengan prestasi yang diraih adiknya itu.
Dia tahu betul perjuangan keras Zohri berlatih di tengah keterbatasan.

Untuk berlatih saja, lanjut Fazilla, Zohri dulu kerap tidak menggunakan alas kaki karena tidak memiliki sepatu.
"Dia anaknya pendiam dan tidak pernah menuntut ini itu. Bahkan, kalau berlatih tidak pernah pakai alas kaki (sepatu) karena tidak punya," tuturnya seperti dikutip dari Antara.
Fazilla menuturkan, bakat lari adiknya tersebut sudah terlihat sejak remaja.
Bahkan, guru olahraganya pun sudah memantau bakat adiknya tersebut.
Lalu, Zohri mulai menjadi atlet lari sejak duduk di bangku SMP. "Untuk berlatih sendiri, adik saya suka latihan lari di pantai Pelabuhan Bangsal, Pemenang," ucapnya.
Fazilla mengatakan, dia dan Zohri merupakan yatim piatu. Zohri adalah anak keempat dari empat bersaudara.
Ketiga kakaknya adalah Fazilah (29), Lalu Ma'rib (28), dan Baiq Fujianti (Almh).
Zohri lahir di Karang Pansor, 1 Juli 2000. Kedua orangtuanya, Lalu Ahmad Yani, sudah meninggal dunia pada tahun 2017, sedangkan ibunya, Saeriah, sudah lebih dulu pergi pada tahun 2015.

"Cita-citanya mau banggakan keluarga dan buatkan rumah," tutur Fazilah menceritakan pengakuan adiknya.
Pantauan Kompas.com, mereka tinggal di rumah yang terbuat dari kayu. Dinding kamar tidur Zohri terbuat dari dari anyaman bambu dan kayu.
Sebagian dinding ditutupi koran yang sudah lapuk.  Menurut Fazilla, rumah mereka mendadak ramai dikunjungi keluarga, tetangga, dan sahabat Zohri.
Mereka datang untuk kembali menyaksikan video aksi Zohri di Youtube dalam kejuaraan lari 100 meter junior U20 di Finlandia itu.

Saat melihat Zohri menerjang garis finis melampaui tujuh pesaingnya, termasuk duo sprinter asal Amerika Serikat (AS) Anthony Scwaartz dan Eric Harrison, mereka bersorak lalu mengulang tayangan tersebut sambil mengusap air mata haru yang menetes.
“Alhamdullilah, ini sungguh kejutan buat kami. Saya sebagai kakaknya sangat bersyukur dan tidak pernah menyangka adik saya bisa menjadi juara dunia. Dia benar-benar membuat kami menangis karena bahagia,” ungkap Fazilla sambil menghapus air matanya.
Zohri merupakan atlet berprestasi untuk lari 100 meter. Pada 2017, dia menyabet 7 emas untuk kejurnas. Pada 2018, dia juga menyabet emas untuk atletik junior Asia 100 meter di Jepang dengan catatan waktu 10,27 detik.
Terakhir, dia menyabet gelar Juara Dunia U-20 100 meter di Finlandia dengan catatan waktu 10,18 detik (dengan percepatan angin searah pelari 1,2 meter/detik).